

Sang malam perlahan menjadi pagi..
dan sang mentari pun merangkak naik perlahan menjemput
sang siang.. Lalu dia turun lagi ditelan cakrawala,
diiringi dengan datangnya sore hari, yang bertahtakan kemilau lembayung,
agar kembali menjadi malam..
dan malam pun terus menjalani takdirnya
dan terus seperti itu lagi.. dan lagi..
"Seorang bijak" mengatakan padaku, bahwa batu bulat
besar, yang berputar, yang bernama bumi ini adalah sebuah
pelajaran yang sering terlupakan atau mungkin di
abaikan oleh manusia di dalamnya ..
Siang akan selalu datang dengan panas yang meraja..
lembayung senja akan jadi saat terindah saat matari
meninggalkan bumi,
dan menyambut datangnya malam dengan ikhlas..
malam akan tetap menjadi dingin, dengan gulita yang
menyertai.... lalu pagi tetap akan menjadi peralihaan sempurna yang
berhias embun dan segarnya udara..
semua akan kembali pada hakekat kehidupannya,
bahkan kita sang manusia.. ya!! kita anak-anak
manusia.
Sejenak kurenungkan tentang semesta, yang lalu coba ku
disangkut-paut kan dengan hakekat kehidupan manusia
diatasnya diatas bumi manusia ini..
tapi langsung kubertanya pada seorang bijak tadi..
"Adakah filosofi tentang bulatnya bumi, serta hakekat
kehidupan anak manusia, juga berlaku pada sesuatu yang
bernama perasaan?? seperti layaknya perasaan anak manusia yang selalu
berganti warna? wahai sang bijak??",
"Adakah sang malam menyesal karna terlalu cepat dia
mengukuhkan gelapnya?, Adakah matahari merasa iri pada
sang bulan yang selalu dipuja oleh para pujangga?"
"Adakah pagi dan sore meyatakan ketidak terimaannya
karena mereka hanya memiliki waktu yang sangat sebentar
padahal mereka sadar bahwa merekalah yang membuat
Semesta menjadi lebih indah?, Serta tanpa mereka pula
perpindahan matahari dan bulan akan menjadi sesuatu
yang janggal adakah mereka menyesal dan tidak
terima?"
Lalu dengan penuh kebijaksanaannya
dia menjawab dengan
suara pelan..
"sang malam tidak pernah menyesal akan gelap,hening
dan dingin yang dimilikinnya, yang mungkin menurutmu
terlalu sebentar untuk singgah di atas bumi ini,
tidak!" dia tidak menyesal, karna selain dia yakin akan
dingin dan gelap yang dia miliki tetap akan dinanti
oleh mereka, (anak manusia), guna menemani tidur dan
melelapkan semesta dengan dingin dan gelapnya.."
"Lalu bagaimana dengan matahari sang raja siang"
tanyaku?... tetap dengan pelan dia menjawab.
"Seperti halnya sang malam, matahari yang tidak pernah
atau mungkin jarang dipuja oleh para pujangga, tapi
justru karna terangnyalah sang bumi punya penghidupan
untuk anak-anak manusia.." "dan dengan panasnyalah sang
pohon bisa bernafas guna mengeluarkan zat yang manusia
butuhkan untuk bernafas.. akankah kita hidup tanpa
nafas?" jawabnya..
"Begitu juga dengan pagi dan sore hari, mereka
menjalani takdirnya untuk hanya menjadi sebuah
transisi akan kerajaaan gelap, dan terang cahaya.."
"mereka di anugrahkan keindahaan yang tiada dimiliki
oleh siang yang terang, dan malam yang kadang terlalu
gelap.."
"pada pagi kami titipkan embun yang sangat
menyejukkan dan pada sore kami hadiahkan lembayung
senja yang indah.."
"Tapi menagapa kami sang manusia selalu memiliki
penyesalan? juga ketidak terimaan, Akan perpindahan
warna perasaan..?? Bahkan, diantara kami ada yang memilih mati!
lalu kalah oleh perasaannya sendiri..
Sepertihalnya perpindahan suasana hati dari bahagia
menjadi durja..atau perubahan dari hati yang penuh dengan warna tiba-tiba
berubah menjadi abu-abu ? Walaupun dengan segala daya dan
upaya kami selalu meminta pertolonganNya.
tapi ketidakterimaan dan logika selalu saja menjadi penghalang
kami untuk jadi manusia sejati atau manusia
seutuhnya.."
Sejenak dia menatap mataku tajam.. lalu tersenyum
menyimpulkan kebijakannya.. lalu dia mulai
berkata-kata tentang manusia diatas bumi manusia..
"Sebutkan padaku bagaimana gambaran dalam benakmu
bentuk sang manusia sejati, atau manusia seutuhnya
yang kau bilang tadi?"
"manusia akan tetap menjadi manusia..
yang dianugrahkan padanya logika dan perasaan..
logika dan perasaan, adalah transisi seperti halnya
sore dan pagi hari,"
"keceriaan hati adalah siang, dan durja adalah malam..
akankah ada kehidupan sejati tanpa adanya terang siang
atau gelapnya malam?"
"Sahabatku, kita hanya manusia dan sebaiknya
bersyukurlah.."
dan sadarlah, kalau kita tidak akan pernah menapaki
kehidupan dalam nafas keilahian..
karna kita tidah ditakdirkan untuk memiliki sifat
keilahian tadi
Namun walaupun kita tidak dianugrahkan sifat keilahian
nan agung itu kita dianugrahkan sesuatu yang sangat
berharga, yaitu logika dan perasaan!!, ya transisi kita
sebagaimana manusia.."
lalu dia menghela nafasnya sejenak untuk kemudian
menitipkan kata terakhirnya.........
"Temukan porosmu sahabat
dan berputarlah dengan ikhlas.."
"Dendy Sukarno"
12/11/07 04:49 AM